Toleransi umat beragama

          Dakwaan terhadap agama ikut berperan dalam memicu konflik dan sebagai sumber kekerasan yang terjadi, baik intern dan antar umat bergama memang sulit dibantah. Secarahistoris, terjadinya perang saudara di antara umat Islam sendiri pada masa yang paling awalseperti Perang Jamal dan Perang Siffein, dan perang umat Islam dengan pihak lain seperti Perang Salib, sampai insiden mutakhir di Indonesia dalam bentuk pengrusakan tempat ibadah di Situbondo, Tasikmalaya, dan konflik Maluku merupakan riak-riak dari banyaknya contoh betapa agama masih tampil sebagai pemicu kekerasan. Ironis memang, karena agama di satu sisi mengajarkan dan mendambakan masyarakat yang religius, penuh kedamaian, saling mencintai, saling mengasihi dan saling tolong menolong; namun di sisi yang lain kondisi obyektif masyarakat jauh dari tatanan ideal agama. Agama laksana pisau yang memiliki sisi tajam pada kedua sisi-sisinya. Di satu pihak mengajak manusia pada bentuk kehidupan yang harmonis; tetapi pada saat bersamaan mengakibatkan ketegangan dan bahkan kekerasan di antara para pengikutnya. Kerukunan Umat Beragama di Indonesia Toleransi antar umat beragama di Indonesia populer dengan istilah kerukunan hidup antar umat beragama. Istilah tersebut merupakan istilah resmi yang dipakai oleh pemerintah. Kerukunan hidup umat beragama merupakan salah satu tujuan pembangunan bidang keagamaan di Indonesia. Gagasan ini muncul terutama dilatarbelakangi oleh meruncingnya hubungan antar umat beragama. Adapun sebab-musabab timbulnya ketegangan intern umat beragama, antar umat beragama, dan antara umat beragama dengan pemerintah dapat bersumber dari berbagai aspek antara lain :

  1. Sifat dari masing-masing agama, yang mengandung tugas dakwah atau missi
  2. Kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan agama pihak lain
  3. Para pemeluk agama tidak mampu menahan diri, sehingga kurang menghormati bahkan memandang rendah agama lain
  4. Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam kehidupan masyarakat.
  5. Kecurigaan masing-masing akan kejujuran pihak lain, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan  pemerintah; dan
  6. Kuranngnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat.

Untuk mengatasi hubungan yang tidak harmonis antar umat beragama ini dan untuk mencari jalan keluar bagi pemecahan masalahnya, maka H.A. Mukti Ali, yang ketika itu
menjabat sebagai Menteri Agama, pada tahun 1971 melontarkan gagasan untuk dilakukannya dialog agama. Dialog agama diselenggarakan sebagai usaha untuk mempertemukan tokoh-tokoh agama dalam rangka pembinaan kerukunan umat beragama. Dialog agama bukanlah polemik tempat orang beradu argumentasi lewat pena. Dialog bukan debat untuk saling mengemukakan kebenaran pendapat dari seseorang dan
mencari kesalahan pendapat orang lain. Dialog bukan apologi sehingga orang berusaha mempertahankan kepercayaan karena merasa terancam. Dialog agama, pada hakekatnya adalah suatu percakapan bebas, terus terang dan bertanggung jawab, yang didasari oleh saling pengertian dalam menanggulangi masalah kehidupan bangsa , baik materil maupun spiritual. Oleh karena itu, perlu dikembangkan prinsip “agree in disagreement” (setuju dalam perbedaan). Hal ini berarti setiap peserta dialog agama harus berlapang dada dalam sikap dan perbuatan (Tarmizi Taher, 1997:5).
Agama menampakkan diri dalam berbagai perwujudan, seperti terlihat dalam sistem pemikirannya, baik yang berupa sistem keyakinan maupun norma. Ia juga menampakkan
diri lebih lanjut dalam bentuk sistem peribadatan, dan ini terlihat dengan adanya rumah –  rumah ibadah dan tradisi-tradisi keagamaan. Penampakkan lebih lanjaut terlihat dalam
bentuk persekutuan atau kelembagaan keagamaan, seperti adanya kelompok-kelompok umat beragama dan lembaga-lembaga keagamaan serta lembaga-lembaga sosial
keagamaan.
Melalui perwujudan yang bercorak kelembagaan, agama menjadi kekuatan nyata dalam proses pembangunan bangsa. Otoritas kepemimpinan keagamaan merupakan faktor
yang ikut menentukan pola kesatuan dan kerukunan umat beragama. Dengan otoritas tersebut, para pemimpin agama beserta lembaga-lembaga keagamaannya menggarap
masalah-masalah yang tidak terjangkau oleh tangan pemerintah. Adapun peranan para pemimpin dan tokoh agama dalam pembangunan antara lain sebagai berikut:

  1. Menerjemahkan nilai-nilai dan norma-norma agama dalam kehidupan masyarakat;
  2. Menerjemahkan gagasan-gagasan pembangunan ke dalam bahasa yang dimengerti oleh rakyat;
  3. Memberikan pendapat, saran dan kritik yang sehat terhadap ide-ide dan cara-cara yang dilakukan untuk suksesnya pembangunan; dan
  4. Mendorong dan membimbing masyarakat dan umat beragama untuk ikut serta dalam usaha pembangunan (Tarmizi Taher, 1997:4).

Selanjutnya agar pembinaan kehidupan beragama tetap dalam kerangka pembinaan dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut:

  1. Peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka menumbuhkan kesadaran beragama bagi setiap pemeluknya. Kesadaran beragama itu tidak saja mewujud dalam kepekaan moral, melainkan juga dalam kepekaan sosial, sehingga dengan demikian tidak membuat fanatisme dan eksklusivisme, melainkan menumbuhkan toleransi sosial dan sikap terbuka.
  2. Negara menjamin kebebasan beragama dan bahkan berusaha membantu pengembangan kehidupan beragama dalam rangka pembangunan. Masing-masing umat beragama memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk menjalankan dan mengembangkan kehidupan agama mereka. Pluralisme Agama sebagai Suatu Keniscayaan Sosial Untuk menunjang terbentuknya masyarakat beragama yang harmonis, maka perlu kiranya bagi para kyai, da‟i, pendeta, romo, dan pemuka-pemuka agama lainnya untuk menanamkan kepada umatnya mengenai keniscayaan kemajemukaan agama dalam kehidupan soaial. Bahwasanya pluralitas agama merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Sehingga konsekuensinya setiap umat beragama memiliki kewajiban untuk mengakui sekaligus menghormati agama lain, tanpa perlu meninggikan atau merendahkan suatu agama (Tarmizi Taher, 1998:5).

Mengingat pluralitas agama merupakan realitas sosial yang nyata, maka sikap keagamaan yang perlu dibangun selanjutnya adalah prinsip kebebasan dalam memeluk suatu agama. Prinsip yang demikian antara lain dibangun dari misi historis Islam bahwa “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (Q.S. 2: 256). Dari prinsip tersebut, maka pola
kehidupan beragama yang akan berkembang adalah sikap keagamaan yang toleran dan mau menghormati umat bergama lainnya. Asumsi itu didasarkan pada suatu pemikiran bahwa
kepenganutan seseorang terhadap agamanya telah diawali lebih dahulu dengan adanya pemikiran yang matang. Adanya pluralitas agama dalam kehidupan sosial menjadikan
dirinya harus melakukan pilihan atas agama yang ada. Ketika seseorang melakukan pilihan atas dasar rasionalitasnya, sudah selayaknya ia pun bertanggung jawab atas pilihannya itu.
Hanya persoalan yang dihadapi umat beragama pada umumnya, pilihan atas suatu agama biasanya lebih merupakan pewarisan atas agama yang telah dianut keluarganya.
Secara normatif, Islam memberikan tuntunan kebaikan, tidak hanya berbuat baik kepada sesama Muslim, namun juga berlaku kepada selain Muslim. Model hidup keagamaan seperti ini, secara otentik dijamin oleh al-Qur‟an, bahwa “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil” (Q.S. 60: 8). Bahkan lebih dari itu, Islam mengajarkan agar umat Islam melindungi tempat-tempat ibadah (rumah ibadah) bagi semua
umat beragama, apapun agamanya. Al-Qur‟an menegaskan “… Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah
dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti
menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya” (Q.S. 22: 40).

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di :

http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/07/toleransi-antar-umat-beragama-usaha-meredam-konflik/

http://www.google.com/search?client=ubuntu&channel=fs&q=kekerasan+antar+umat+beragama&ie=utf-8&oe=utf-8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s